Jakarta (OnDTrack) :
Dalam atmosfer yang penuh keprihatinan dan semangat perbaikan, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menyuarakan kegelisahan publik atas dampak beban keuangan proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung terhadap keberlangsungan layanan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berlangsung pada Senin (15/9) di Gedung DPD RI, Jakarta, sejumlah Senator memberikan masukan tajam namun membangun.
Ketua Komite II DPD RI, Dr. Badikenita BR Sitepu, menegaskan pentingnya pengelolaan utang secara transparan dan akuntabel. Ia mengingatkan bahwa dampak utang jangan sampai menjadi penghalang keberlanjutan layanan publik, khususnya bagi moda transportasi yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat Indonesia.
“Kami khawatir masalah utang tersebut dapat memengaruhi kinerja keuangan PT KAI,” tegas Badikenita.
Sorotan Tajam: Dana Jumbo tapi Minat Minim
Senator asal Jawa Tengah, Dr. H. Abdul Kholik, memberikan kritik tajam terhadap tingginya biaya operasional proyek kereta cepat Whoosh, yang menurutnya belum berbanding lurus dengan minat masyarakat.
“Sayang sekali. Dana sebesar itu seharusnya bisa dipakai untuk menghidupkan kembali jaringan kereta daerah yang justru sangat dibutuhkan masyarakat,” ungkap Abdul Kholik dengan nada prihatin.
Isu spiritualitas pun tak luput dari perhatian. Senator asal D.I. Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., menyampaikan pentingnya memperhatikan fasilitas mushola di dalam kereta, yang dinilai terlalu sempit dan tidak memadai untuk beribadah dengan khusyuk.
“Kami tidak minta mushola sebesar restoran, tapi setidaknya lebih layak untuk shalat berjamaah. Ini tentang penghormatan terhadap hak beribadah rakyat,” ujar tokoh PBNU itu.
Ia juga menyoroti pentingnya arah kiblat yang bisa berubah mengikuti arah jalannya kereta. Dalam tradisi Mazhab Syafi’i, arah kiblat yang melenceng menjadikan shalat tidak sah secara sempurna—dan harus diulang.
“Transportasi publik harus ramah spiritual. Lagu wajib nasional kita menyebut ‘bangunlah jiwanya sebelum badannya’. Ini bukan sekadar lirik, ini pesan moral kebangsaan,” tegas Hilmy.
Siap Berbenah dan Berinovasi
Wakil Direktur Utama PT KAI, Dody Budiawan, menanggapi masukan DPD dengan terbuka. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus berinovasi untuk meningkatkan kenyamanan, termasuk memperbaiki fasilitas ibadah dan menindaklanjuti usulan pembukaan jalur baru.
“Semua aspirasi sudah kami catat dan akan dibawa dalam diskusi bersama Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA). Kami siap kawal agar semuanya berjalan sesuai harapan,” ujar Dody.
Pembangunan infrastruktur seharusnya berpijak pada kebutuhan rakyat, bukan ambisi proyek semata. Proyek besar seperti Kereta Cepat Whoosh memang simbol kemajuan, tapi tanpa kepekaan sosial dan spiritual, kemajuan itu kehilangan ruh.
DPD RI melalui suara para senatornya telah menunjukkan bahwa keberpihakan pada rakyat adalah fondasi utama kebijakan negara.
Jika arah pembangunan melenceng dari kepentingan publik, maka tak hanya arah kiblat yang terganggu, arah masa depan bangsa pun bisa tersesat.
Sudah waktunya kebijakan di rel-kan kembali ke jalur yang tepat: Jalur kesejahteraan dan keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia. Salam Hormat untuk Perjalanan Indonesia yang Lebih Bijak dan Manusiawi.
)**Sanatawnee / Foto Istimewa

