Bali (OnDTrack) :
Senator Indonesia asal Sumatera Barat, Irman Gusman, menegaskan bahwa pariwisata harus ditempatkan sebagai sektor unggulan dan penopang utama perekonomian nasional, bukan lagi sekadar pelengkap. Hal itu ia sampaikan dalam forum bergengsi The 1st Indonesia Tourism Marketing Week (ITMW) 2025 yang dibuka oleh Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana, di Maya Sanur, Bali, Sabtu (11/10/2025).
Acara yang digagas oleh Hermawan Kartajaya, Founder Markplus, tersebut turut dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional seperti Arief Yahya (Menteri Pariwisata RI 2014–2019), I Nyoman Giri Prasta (Ketua Bali Tourism Board), Emanuel Melkiades Laka Lena (Gubernur NTT), serta sejumlah kepala daerah dari berbagai wilayah di Indonesia — termasuk Bupati Mentawai, Subang, Ngawi, Kabupaten Bandung, hingga Wali Kota Magelang dan Tegal.
Dalam paparannya bertajuk “Masa Depan Pariwisata Indonesia: Beyond Numbers, Towards Sustainable Impact,” Irman menekankan bahwa pariwisata adalah harta karun bangsa dengan multiplier effect besar terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Setiap rupiah yang dibelanjakan wisatawan memberikan dampak ekonomi hingga dua kali lipat. Karena itu, pariwisata tidak boleh lagi dianggap sektor tambahan, melainkan harus menjadi pilar utama pembangunan nasional,” ujar Irman.
Apresiasi untuk Kemenparekraf dan Kepemimpinan Baru
Irman juga memberikan apresiasi atas capaian Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di bawah kepemimpinan Widiyanti Putri Wardhana yang dinilainya impresif meski belum genap setahun menjabat.
“Dalam waktu kurang dari satu tahun, kementerian ini mampu menorehkan capaian luar biasa,” ungkapnya.
Capaian tersebut antara lain pengesahan Undang-Undang Kepariwisataan yang baru dalam waktu singkat, serta rekor kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 10,04 juta orang — naik 10,38 persen dibanding tahun 2024, sekaligus tertinggi sejak pandemi.
Pariwisata sebagai Ekosistem Sinergis
Irman menilai, pariwisata adalah sektor dengan efisiensi tinggi dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, serta menggerakkan sektor pendukung seperti transportasi, kuliner, dan ekonomi kreatif. Karena itu, ia mendorong sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk mempercepat pengembangan sektor ini.
Ia mencontohkan, pembangunan infrastruktur dapat dikolaborasikan dengan Kementerian PUPR, peningkatan kualitas SDM bersama Kementerian Ketenagakerjaan dan Kemendikbudristek, penguatan pariwisata berkelanjutan dengan KLHK, serta pemberdayaan UMKM dan ekonomi kreatif bersama Kementerian Koperasi dan UKM.
“Dengan koordinasi lintas sektor yang kuat, pariwisata tidak hanya menjadi sektor unggulan, tetapi juga motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menurut Irman, gagasan tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama.
Menutup paparannya, Irman menyerukan pentingnya integrasi kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi pariwisata untuk mendorong efisiensi dan personalisasi pengalaman wisatawan.
“Melalui AI for Tourism, kita bisa membangun ekosistem pariwisata cerdas — mulai dari predictive planning, personalized experience berbasis AR/VR, hingga strategi digital marketing yang lebih efektif,” jelasnya.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjadikan momentum ini sebagai tonggak menuju masa depan pariwisata Indonesia yang berdaya saing global, berkelanjutan, dan mensejahterakan rakyat.
“Mari jadikan pariwisata bukan hanya destinasi, tetapi kekuatan bangsa untuk menembus batas dunia.”
)**Nurwulan KD/ Foto Istimewa

