Abu Dhabi, UEA (OnDTrack) :
Sebuah langkah besar bagi masa depan konservasi gajah sumatra kembali terukir. Belantara Foundation bersama Conservation Allies resmi menandatangani piagam kerja sama strategis untuk memperkuat program Living in Harmony — sebuah inisiatif pelestarian yang menitikberatkan pada keharmonisan antara manusia dan gajah liar di Lanskap Sugihan Simpang Heran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Momen bersejarah ini berlangsung di Asia Pavilion, dalam rangkaian IUCN World Conservation Congress 2025 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Penandatanganan disaksikan langsung oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan RI, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, M.Agr.Sc., dan Koordinator Regional Hutan dan Lahan Kering IUCN Asia, Dr. Satrio Wicaksono.
Kesepakatan ini menjadi buah dari keyakinan Belantara Foundation bahwa gajah sumatra—terutama populasi di Lanskap Sugihan Simpang Heran—memerlukan intervensi konservasi yang serius dan berkelanjutan. Kawasan ini merupakan habitat penting dengan potensi populasi gajah jangka panjang, namun di saat bersamaan menghadapi tekanan besar akibat tumpang tindihnya ruang hidup antara satwa dan aktivitas manusia.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, menjelaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah nyata dalam memperkuat Living in Harmony, program yang telah dijalankan Belantara sejak tiga tahun terakhir.
“Tujuannya sederhana namun mendalam — menciptakan koeksistensi harmonis antara masyarakat dan gajah liar di lanskap yang sama,” ujar Dolly.
Ia menegaskan, kerja sama ini merupakan bentuk dukungan konkret dari Conservation Allies, lembaga nirlaba asal Washington DC, Amerika Serikat, melalui pendanaan hibah dan penggalangan dana publik selama dua tahun untuk memperkuat pelestarian gajah sumatra di kawasan tersebut.

Sinergi Multisektor untuk Alam dan Masyarakat
Menurut Dolly, Lanskap Sugihan Simpang Heran yang dihuni oleh 100–120 individu gajah liar bukan hanya penting bagi kelestarian gajah sumatra, tetapi juga bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat desa di sekitarnya.
“Kita butuh pendekatan yang inovatif dan kolaboratif. Pemerintah, swasta, lembaga konservasi, masyarakat, hingga media harus bersatu dalam semangat yang sama,” tegasnya.
Belantara Foundation bersama mitra telah fokus pada peningkatan kapasitas tim mitigasi konflik manusia-gajah, penyediaan tower pemantauan, edukasi anak-anak, serta penyediaan artificial saltlicks atau tempat menggaram buatan guna memenuhi kebutuhan mineral gajah di alam.
Dukungan Global dari Conservation Allies
Presiden Conservation Allies, Dr. Paul Salaman, menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi simbol solidaritas global terhadap pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
“Program yang dijalankan Belantara Foundation sangat relevan dengan tantangan masa kini. Kami berkomitmen penuh membantu melalui pendanaan, penggalangan dana publik, dan peningkatan kapasitas di lapangan,” ujarnya.
Paul menambahkan, seluruh dana yang terkumpul akan dikelola secara transparan dan dialokasikan sepenuhnya untuk mendukung kegiatan lapangan. Ia juga mengajak masyarakat global turut berdonasi melalui tautan resmi:
https://conservationallies.org/appeals/achieve-coexistence-between-local-communities-and-wild-elephants/
Apresiasi Pemerintah dan Pengakuan Internasional
Dirjen KSDAE Kemenhut RI, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Belantara Foundation dan Conservation Allies. Menurutnya, program ini selaras dengan semangat perlindungan satwa liar sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.
“Gajah sumatra merupakan satwa dilindungi dengan status Critically Endangered menurut IUCN Red List. Inisiatif ini sangat baik dan diharapkan mampu mengubah interaksi negatif manusia-gajah menjadi koeksistensi harmonis,” ungkap Prof. Satyawan.
Dalam forum IUCN World Conservation Congress 2025 yang digelar di ADNEC Centre Abu Dhabi (9–15 Oktober 2025), Belantara Foundation juga berperan aktif memperkenalkan berbagai upaya pemulihan hutan terdegradasi di Provinsi Riau dan konservasi biodiversitas di Sumatera Selatan.
Kehadiran mereka bukan sekadar representasi lembaga, tetapi sebagai jembatan antara visi lokal dan kepedulian global untuk menjaga keberlanjutan bumi.
Kongres ini sendiri merupakan ajang internasional terbesar yang mempertemukan lebih dari 10.000 peserta dari 160 negara, meliputi ilmuwan, pengambil kebijakan, pelaku usaha, dan profesional konservasi dunia.
Harmoni yang Harus Dijaga, Alam yang Harus Dihormati
Langkah Belantara Foundation dan Conservation Allies di Abu Dhabi bukan sekadar penandatanganan kertas perjanjian. Ia adalah simbol dari harapan besar — bahwa manusia dan gajah bisa hidup berdampingan tanpa saling mengancam, dalam lanskap yang sama, di bumi yang sama.
Karena pada akhirnya, menjaga alam bukan hanya tentang melestarikan satwa, tapi tentang menyelamatkan keseimbangan kehidupan itu sendiri.
)***Jegegtantri / Foto Istimewa

