JAFF Market : Industri Film Motor Ekonomi yang Tak Bisa Diremehkan

Must Read

Jakarta (OnDTrack) :

Di tengah laju industri kreatif yang terus bergerak cepat, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia Sultan B. Najamudin kembali menegaskan bahwa industri film adalah motor ekonomi yang tak bisa diremehkan. Pernyataan ini disampaikan dalam pembukaan JAFF Market di Grha Pradipta Jogja Expo Center (JEC), Sabtu (29/11), sebuah momentum yang meneguhkan peran Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) sebagai ruang berkumpulnya talenta dan karya film terbaik Asia.

Dengan nada optimis yang hangat, Sultan menyebut JAFF sebagai salah satu festival film terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Baginya, ketika industri film tumbuh, maka denyut ekonomi daerah ikut menguat, membuka peluang baru bagi pelaku kreatif, UMKM lokal, hingga sektor pariwisata.

“Jika industri film kita maju, tentu daerah sekitarnya juga akan turut berkembang sektor ekonominya,” ujar Sultan dalam sambutan resminya.

Acara ini turut dihadiri tokoh nasional seperti Ahmad Syauqi Soeratno (Anggota DPD RI DIY), Rano Karno (Wakil Gubernur DKI Jakarta), dan Ahmad Mahendra (Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan & Pembinaan, Kemendikbud).

Industri Film: Panggung Besar Kreativitas dan Ekonomi

Sultan menekankan bahwa karya film bukan sekadar tontonan. Ia adalah ruang yang memberi dampak ekonomi nyata, membawa nilai tambah bagi daerah, membuka lapangan kerja, serta memperkenalkan budaya Indonesia ke mata dunia.

Menurut Sultan, negeri ini adalah rumah yang kaya potensi—budaya yang beragam, bentang alam yang megah, hingga karakter lokal yang unik. Semua itu menjadi modal tak terbantahkan bagi kekuatan sinema Indonesia.

“Indonesia memiliki banyak spot indah dan talenta yang luar biasa. Setiap karya yang lahir, setiap narasi yang diproduksi, dan gambar yang ditangkap kamera dapat kembali memperkuat ekonomi serta kreativitas lokal,” tegasnya.

Baca Juga :  Sekretariat Jenderal DPD RI Gelar Vaksinasi HPV, Wujud Nyata Perlindungan Kesehatan ASN dan Keluarga

Dalam kesempatan itu, Sultan juga menegaskan bahwa DPD RI siap menjadi jembatan untuk membangun regulasi yang mendukung tumbuhnya industri film. Ia membuka ruang diskusi bagi sineas dan insan kreatif mengenai kebutuhan, tantangan, dan peluang kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah.

“Saya akan diskusi dengan teman-teman di industri film ini—apa yang dibutuhkan dari regulasi, apa masalahnya di daerah ataupun pusat. Kita punya potensi yang sama untuk berkolaborasi,” jelas Sultan.

Pesan untuk Sineas Muda: Berani Berkarya, Berani Bersuara

Kepada para sineas muda dan content creator, Sultan menyampaikan dorongan yang kuat: mulailah dari keberanian.
Karena dalam dua dekade ke depan, industri kreatif akan menjadi salah satu sektor paling penting untuk masa depan Indonesia.

Ia percaya bahwa karya yang kuat lahir dari keyakinan diri, kejujuran bercerita, dan kemampuan menangkap realitas secara peka. Dunia perfilman akan terus tumbuh selama keberanian itu tetap hidup.

Industri film bukan hanya panggung imajinasi; ia adalah mesin ekonomi, kanal budaya, dan ruang besar masa depan. JAFF kembali membuktikan bahwa kreativitas Indonesia punya daya dobrak global. Dan dari Jogja, energi itu kembali dipompa ke seluruh negeri.

Dengan dukungan pemerintah, keberanian para kreator, serta kekuatan budaya lokal, masa depan film Indonesia bukan sekadar cerah—ia sedang menyala.

Semoga langkah besar ini menjadi sumber inspirasi bagi seluruh insan kreatif Indonesia untuk terus menghadirkan karya yang menggerakkan, menghidupkan, dan membesarkan nama bangsa. Teruslah berkarya, karena setiap cerita punya kekuatan mengubah masa depan.

)**Jegegtantri / Foto Ist.

Latest News

Kolonel Laut (KH) Ignatius Maria Pundjung Triyogatama, S.Sos., M.Sc. Resmi Jabat Kadispen Kodaeral IV

Tanjungpinang (OnDTrack) : Kolonel Laut (KH) Ignatius Maria Pundjung Triyogatama, S.Sos., M.Sc. resmi menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Komando...

More Articles Like This