Yogyakarta (OnDTrack) :
Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah penyangga moral bangsa, tempat nilai dan karakter ditempa menjadi kekuatan yang menghidupi masa depan Indonesia. Pesan itu disampaikan oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dalam Silaturahim Nasional Bu Nyai Nusantara Ke-4 bertema “Transformasi Pesantren: Merawat Tradisi, Membangun Inovasi” yang digelar di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta, Sabtu (1/11).
Dalam sambutannya, GKR Hemas menegaskan pentingnya peran pesantren sebagai pusat lahirnya generasi berakhlak, berilmu, dan berjiwa pengabdian. Ia menyoroti bahwa transformasi pesantren bukan berarti meninggalkan akar tradisi, melainkan bagaimana nilai-nilai klasik dapat beradaptasi dengan tantangan zaman.
“Pesantren adalah penjaga moral bangsa. Dari pesantren, lahir generasi yang kuat secara spiritual dan cerdas secara intelektual,” ujar GKR Hemas dengan nada tegas namun lembut.
Perempuan Pengasuh Pesantren, Penjaga Peradaban dan Penggerak Bangsa
Dalam kesempatan itu, GKR Hemas juga mengangkat kiprah ulama perempuan Nusantara seperti Tengku Fakinah (Aceh), Rahmah El Yunusiah (Sumatera Barat), dan Nyai Khoiriyah Hasyim (Jombang) sebagai simbol kepemimpinan perempuan yang visioner dan berwawasan kebangsaan.
“Posisi ibu-ibu Nyai Nusantara hari ini adalah penerus jejak ulama perempuan terdahulu yang telah berjuang membangun peradaban Islam dan bangsa,” tutur GKR Hemas.
Menurutnya, Ibu Nyai bukan sekadar pengasuh pesantren, melainkan figur penggerak perubahan yang membentuk karakter perempuan santri agar berdaya, berpengetahuan, dan mandiri tanpa meninggalkan nilai keislaman. Ia menegaskan, kepemimpinan perempuan pesantren bukan hanya isu kesetaraan, tetapi strategi besar pembangunan nasional.
Pesantren dan Kepemimpinan yang Berkeadaban
Dalam suasana yang penuh kehangatan, GKR Hemas juga menyinggung pentingnya menciptakan ruang aman bagi santri, terutama perempuan dan anak. Ia menyoroti isu kekerasan seksual di lingkungan pendidikan agama yang akhir-akhir ini menjadi perhatian publik.
“Saya menitipkan agar para Nyai Nusantara membahas upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di pesantren. Jelang 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, mari kita suarakan ruang aman bagi perempuan dan anak,” tegasnya.
Sebagai Permainsyuri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Wakil Ketua DPD RI, GKR Hemas menilai dukungan terhadap pemimpin perempuan pesantren adalah bagian integral dari strategi pembangunan bangsa. Perempuan, katanya, memiliki kemampuan untuk mengelola nilai, cinta, dan pengetahuan secara seimbang — kekuatan yang sangat dibutuhkan bangsa ini.
Tiga Pilar Transformasi Pesantren: Integrasi, Kemandirian, dan Inovasi Digital
Dalam paparannya, GKR Hemas menegaskan tiga pilar utama transformasi pesantren:
Kurikulum Integratif, yang memadukan ilmu agama dan pengetahuan umum tanpa kehilangan ruh spiritual.
Kemandirian Ekonomi Pesantren, agar menjadi pusat pendidikan sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Inovasi Digital Pesantren, untuk memperluas jangkauan dakwah dan pendidikan di era milenial dan Gen Z.
Ia menambahkan, masa depan bangsa akan lebih kuat apabila pesantren menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi berilmu, berkarakter, dan berdaya saing.
“Saya percaya bahwa masa depan bangsa akan lebih kuat apabila pesantren menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi berilmu, berkarakter, dan berdaya saing,” tutup GKR Hemas, yang disambut tepuk tangan hangat hadirin.
Masa Depan Pesantren yang Progresif
Acara Silaturahim Nasional ini dihadiri tokoh-tokoh penting seperti Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, Katib Syuriyah PBNU KH. Hilmy Muhammad, Ketua RMI PBNU KH. Hodri Arief, Ketua RMI PWNU DIY KH. M. Nilzam Yahya, Nyai Ida Rufaida Ali selaku pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, serta tokoh perempuan nasional GKR Mangkubumi, Hindun Anisah, dan Rieke Diah Pitaloka.
Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa pesantren hari ini bukan hanya ruang belajar agama, tetapi laboratorium sosial yang membangun bangsa dengan hati, ilmu, dan akhlak.
Pesantren yang bertransformasi adalah pesantren yang tetap berakar pada tradisi, namun berbuah pada inovasi. Di tangan para Bu Nyai Nusantara, pesantren bukan sekadar benteng moral, melainkan mercusuar peradaban yang menuntun bangsa menuju masa depan yang lebih berkeadaban.
)**Sanatawnee / Foto Istimewa

