Yogyakarta (OnDTrack) :
Fenomena maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal masih menjadi momok bagi masyarakat. Di balik kemudahan akses keuangan digital, jeratan bunga tinggi dan ancaman data pribadi justru menghantui banyak keluarga. Kondisi inilah yang mendorong Anggota DPD RI termuda asal DIY, R.A. Yashinta Sekarwangi Mega, untuk turun langsung menyerap aspirasi dan menyuarakan solusi nyata.
Dalam kegiatan sosialisasi pinjaman online ilegal di Desa Tepus, Gunungkidul, yang melibatkan Ketua DPRD DIY Nuryadi dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Yashinta mendengar langsung keresahan masyarakat yang masih kerap terjerat pinjol ilegal.
“Saya mendapat aduan bahwa pinjaman online ilegal masih marak dan sudah cukup meresahkan. Sosialisasi tentang perbedaan pinjol legal dan ilegal masih belum banyak dilakukan, sehingga literasi keuangan masyarakat pun rendah,” ujar Yashinta tegas.
Literasi Keuangan, Kunci Pencegahan Jerat Pinjol Ilegal
Pernyataan Yashinta tersebut diamini oleh Rosi Kho Arliyani, Pengawas Divisi Pengawasan PEPK dan LMS OJK DIY. Ia mengakui bahwa pinjol ilegal masih beredar luas, meski OJK telah meluncurkan berbagai program peningkatan literasi keuangan, salah satunya melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan).
“Kami telah memasukkan materi pembeda antara pinjol legal dan ilegal dalam setiap kegiatan literasi. Tapi harus diakui, penyebarannya memang belum merata,” ungkap Rosi.
Sementara itu, Ketua DPRD DIY Nuryadi menegaskan pentingnya literasi keuangan dalam membangun kesadaran masyarakat. Berdasarkan data, literasi keuangan di DIY baru mencapai 65,43%, meninggalkan sekitar 1,2 juta warga yang belum memahami pengelolaan keuangan dengan baik.
“Masih banyak masyarakat yang rentan terjebak pinjol ilegal karena belum paham cara membedakan layanan keuangan yang sah,” tutur Nuryadi.
“Gethok Tular”: Solusi Lokal yang Efektif dan Efisien
Dalam forum tersebut, Yashinta memperkenalkan metode “gethok tular” — budaya tutur khas masyarakat Jawa yang bermakna penyebaran informasi dari mulut ke mulut — sebagai strategi baru literasi keuangan yang efisien dan membumi.
“Selama ini sosialisasi dilakukan dengan cara mengumpulkan banyak orang dalam satu waktu. Itu boros anggaran dan hasilnya sering tidak maksimal. Saya menawarkan metode gethok tular dengan melatih Ketua RT dan RW sebagai agen literasi keuangan,” jelas Yashinta.
Konsep ini sederhana namun berdaya jangkau luas. Setelah menerima pelatihan, para Ketua RT dan RW akan menyebarkan pengetahuan tentang pinjol legal dan ilegal melalui kegiatan masyarakat sehari-hari, seperti kerja bakti, arisan, hingga poskamling.
“OJK cukup memberikan pelatihan pada Ketua RT dan RW, lalu mereka meneruskan kepada warga sekitar. OJK tinggal memantau. Ini cara efektif, efisien, dan sesuai karakter masyarakat kita,” tambahnya yakin.
Usulan itu langsung mendapat dukungan Ketua DPRD DIY Nuryadi, yang menganggap metode “gethok tular” terbukti ampuh, bahkan pada masa penanganan pandemi COVID-19.
“Waktu COVID-19, metode gethok tular sangat efektif menyebarkan informasi. Saya setuju jika pendekatan budaya ini digunakan kembali untuk literasi keuangan,” tegas Nuryadi.
Budaya Lokal sebagai Pilar Edukasi Modern
Yashinta menilai, budaya “gethok tular” adalah warisan kearifan lokal yang seharusnya diintegrasikan dalam setiap program pemerintah. Di era digital yang serba cepat, pendekatan personal dan humanis seperti ini justru mampu membangun kedekatan emosional antara masyarakat dan edukator.
Dengan mengusung semangat budaya dan efisiensi, Yashinta berharap metode ini dapat menjadi model nasional dalam upaya meningkatkan literasi keuangan dan melawan jerat pinjol ilegal.
“Budaya kita menyimpan solusi. Dengan gethok tular, masyarakat tidak hanya tahu, tapi juga peduli. Literasi bukan sekadar angka, tapi kesadaran bersama,” tutup Yashinta penuh keyakinan.
Langkah Yashinta Sekarwangi Mega menghidupkan kembali budaya “gethok tular” bukan sekadar inovasi sosial, tapi refleksi dari semangat muda yang berpihak pada rakyat. Ketika teknologi membawa kemudahan, budaya membawa keseimbangan. Dan di tengah derasnya arus digital, kearifan lokal menjadi jangkar literasi yang membumi dan berkelanjutan.
)*** Sanatawnee / Foto Istimewa

