Jakarta (OnDTrack) :
Seruan humanis untuk peran aktif Indonesia di panggung lobal. Krisis kemanusiaan di Sudan kembali mengetuk nurani dunia. Dalam beberapa bulan terakhir, konflik bersenjata antara dua faksi militer kembali pecah dan membesar, memicu gelombang penderitaan yang meluas.
Ratusan ribu warga meninggal, puluhan juta lainnya mengungsi, dan layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, hingga pasokan pangan runtuh tanpa kepastian. Sudan kini berada di ambang tragedi besar yang terus menggerus harapan.
Indonesia, sebagai negara yang meletakkan nilai kemanusiaan dalam Pembukaan UUD 1945, dinilai tak bisa tinggal diam. Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Sudan (ALKIS) menyerukan langkah konkret agar Indonesia mengambil peran lebih signifikan dalam mengatasi tragedi global ini.
Indonesia Diminta Turun Tangan: Seruan Moral dari ALKIS
Koordinator ALKIS, KH. Moch. Hilmi Asshiddig al-Aroky, menyampaikan bahwa krisis Sudan adalah tragedi besar yang tidak mendapat sorotan luas dunia. Meski demikian, penderitaan rakyat Sudan seharusnya tetap mendapatkan perhatian serius dari Indonesia.
“Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah dan penuh toleransi. Tidak pantas jika kita tidak peduli pada tragedi kemanusiaan seperti ini. Masalah kemanusiaan tidak mengenal batas negara. Ukurannya sederhana: kita punya hati atau tidak,” ujar Kiai Hilmi dalam keterangan resminya pada Senin (17/11/25).
Ia menegaskan bahwa banyak tokoh nasional yang memiliki perhatian mendalam terhadap Sudan, namun belum ada wadah kolektif yang mampu menyatukan suara tersebut secara terarah. ALKIS hadir untuk mengisi kekosongan itu dan menjadi ruang koordinasi solidaritas nasional.
Empat Seruan Strategis ALKIS kepada Pemerintah
ALKIS menilai Indonesia memiliki kekuatan moral dan pengaruh diplomatik yang dapat membantu menekan berbagai pihak untuk menghentikan perang serta membuka jalur kemanusiaan. Empat langkah utama yang diserukan adalah:
Menginisiasi diplomasi global melalui PBB, OKI, dan Gerakan Non-Blok untuk membuka jalur aman bagi warga sipil serta memperkuat tekanan internasional agar pertempuran mereda.
Menyatakan sikap resmi Indonesia yang berpihak pada keselamatan rakyat Sudan, sekaligus mendesak Dewan Keamanan PBB menghentikan suplai senjata kepada pihak yang bertikai.
Menggerakkan lembaga negara, mulai dari Kementerian Luar Negeri, BNPB, PMI, hingga Baznas, untuk mengirim dukungan nyata berupa tenaga medis, logistik darurat, dan perlindungan bagi pengungsi.
Membangun forum solidaritas nasional, melibatkan lembaga dan masyarakat sipil, untuk menghimpun dukungan kemanusiaan yang terarah.
“ALKIS menilai respons cepat pemerintah dan partisipasi publik yang kuat dapat memperluas jangkauan bantuan bagi rakyat Sudan. Diplomasi tanpa aksi nyata tidak cukup. Perlu gerak lintas lembaga agar solidaritas Indonesia terasa sampai ke titik paling terpukul di Sudan,” tegas Kiai Hilmi.
Didukung Deretan Tokoh Nasional
Seruan ALKIS mendapat dukungan luas dari berbagai tokoh nasional, ulama, cendekiawan, serta akademisi. Mereka memandang bahwa krisis Sudan membutuhkan suara kolektif Indonesia agar tragedi kemanusiaan yang terjadi tidak makin tenggelam.
Beberapa tokoh yang turut memberikan dukungan moral adalah:
Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA., Hj. Safira Rosa Machrusah, KH. Ubaidillah Ruhiyat, Dr. (H.C.) K.H. Zulfa Mustofa, KH. Muhammad Cholil Nafis, Ph.D., Dr. KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc., MA., dan sejumlah tokoh lain yang memiliki rekam jejak dalam isu kemanusiaan internasional.
Di akhir pernyataannya, Kiai Hilmi menegaskan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam isu solidaritas global. Bangsa ini selalu berdiri bersama mereka yang membutuhkan.
“Indonesia tidak boleh menjadi penonton ketika jutaan warga Sudan kehilangan hak hidupnya. Kita punya tradisi kepedulian yang kuat, dan sejarah itu memanggil kita kembali,” tutupnya.
Krisis Sudan bukan sekadar berita internasional. Ia adalah cermin kemanusiaan dunia. Indonesia memiliki ruang untuk berperan, dan ALKIS membuka jalannya. Ketika suara nurani bersatu, langkah kecil dapat menjadi cahaya besar dalam pekatnya tragedi.
Dengan kepedulian yang terarah, Indonesia bisa hadir sebagai bangsa yang tak hanya bicara, tetapi bergerak. Inilah saatnya kemanusiaan diutamakan, dan solidaritas digerakkan sampai tuntas.
)**Nurwukan KD/ Foto Ist

