JAKARTA ! OnDtrack.com –
Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah berpotensi meningkatkan biaya kesehatan dan harga obat-obatan bagi masyarakat di seluruh Indonesia. Ketergantungan industri farmasi nasional yang mencapai lebih dari 90 persen pada bahan baku obat (BBO) impor membuat pelemahan mata uang lokal berdampak langsung pada biaya produksi medis.
Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, mengingatkan bahwa imbas pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada harga obat-obatan, tetapi juga pada biaya pemeriksaan medis dan layanan kesehatan secara keseluruhan.
“Penguatan dolar AS memicu kenaikan biaya pengadaan bahan baku obat impor. Dampaknya, industri farmasi menghadapi tantangan berat untuk menjaga efisiensi produksi tanpa mengorbankan ketersediaan obat yang masyarakat butuhkan,” ujar Prof. Tjandra Yoga Aditama di Jakarta.
Selain obat-obatan, pengadaan reagen diagnostik seperti cartridge, test strip, serta peralatan medis berteknologi tinggi di rumah sakit juga terancam melambung karena mayoritas masih didatangkan dari luar negeri. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas layanan kesehatan jika fasilitas medis kesulitan menutup kenaikan operasional.
“Tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya hidup dapat menurunkan daya beli masyarakat. Ketika pengeluaran rumah tangga makin tertekan, masyarakat berisiko mengurangi pemenuhan gizi seimbang, menunda pengobatan rutin, hingga memicu stres yang berdampak pada kesehatan mental,” kata Tjandra menambahkan.
Guna mengantisipasi dampak yang lebih meluas, pemerintah mengupayakan relaksasi pengadaan bahan baku medis. Kebijakan ini memberikan fleksibilitas bagi industri farmasi untuk mengimpor dari negara pemasok alternatif yang menawarkan harga lebih terjangkau, serta melakukan efisiensi kemasan produk tanpa menguraikan kualitas obat.
Pemerintah bersama pemangku kepentingan sektor kesehatan mengimbau masyarakat untuk tetap mencermati perkembangan harga, khususnya bagi pasien yang memerlukan konsumsi obat rutin jangka panjang. Stabilitas nilai tukar mata uang menjadi kunci utama agar akses pelayanan medis, ketersediaan gizi, dan obat-obatan tetap terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
)**Sanatawnee / Foto Ist.

