On This Day, Diponegoro dan “Seruput” Anggur Putihnya

Must Read


ondtrack.com

Tepat pada hari ini, 238 tahun lalu atau pada 11 November 1785, Pangeran Diponegoro lahir. Selain kisah kepahlawanannya, cerita mengenai kegemarannya meminum anggur putih sempat menjadi pro dan kontra.

Lalu, seperti apa kisah sesungguhnya?

Kisah berawal setelah Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock mengkhianati sosok bernama lengkap Bendara Pangeran Harya Dipanegara itu pada Idul Fitri 28 Maret 1830.

Diponegoro ditangkap di Magelang, lalu ditahan di Gedung Karesidenan Semarang dan Stadhuis Batavia, sebelum akhirnya diasingkan ke Sulawesi dengan menggunakan kapal laut.

Selama perjalanan ke Sulawesi, Diponegoro mengalami kondisi yang sulit. Ia terserang malaria dan mabuk laut, yang menyebabkan demam dan muntah berulang kali. Wajahnya menjadi pucat, dan tubuhnya menjadi kurus.

Kondisi kapal juga tidak lebih baik, dengan empat awak yang meninggal dalam lima hari pertama perjalanan dan dibuang ke laut. Namun, Diponegoro tetap bertahan, didampingi oleh dokter kapal H. Schillet dan ramuan jamu beras kencur buatannya sendiri.

Selama hampir enam minggu perjalanan itu, Diponegoro ditemani oleh Letnan Dua Justus Heinrich Knoerle, seorang Jerman yang diangkat sebagai ajudan militer Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes van den Bosch.

Knoerle kemudian menjadi pendamping dan penerjemah Diponegoro selama perjalanan menuju Manado.

Diponegoro sendiri menginginkan adanya seorang penerjemah yang bisa menerjemahkan omongannya dalam bahasa Jawa, karena ia tidak fasih berbicara dalam bahasa Melayu.

Awalnya, Kapten J.J. Roeps adalah pilihan utama sebagai penerjemah, namun ia sedang cuti selama dua tahun mulai Juli 1830. Akhirnya, Knoerle dipilih karena dianggap memiliki kemampuan bahasa dan pemahaman Jawa yang baik.

Knoerle mencatat segala perilaku, sikap, dan percakapan Diponegoro dalam sebuah jurnal yang ditulis khusus untuk Gubernur Jenderal Van den Bosch.

Baca Juga :  Kuliner Dalam Sorotan Budaya Pop

Jurnal ini penting karena Van den Bosch harus mempertimbangkan implikasi politik pengasingan Diponegoro terhadap kemungkinan serangan Inggris ke Indonesia.

Dalam perjalanan mereka, mereka berbicara tentang berbagai topik, mulai dari geografi nusantara bagian timur hingga lukisan William I, serta persoalan mengasingkan pimpinan musuh yang baru saja ditaklukkan. Knoerle memanggil Diponegoro dengan sebutan “Kanjeng Tuwan Pangeran,” dan Diponegoro membalas dengan “kowe.”

Salah satu catatan menarik dalam jurnal ini adalah saat Diponegoro mencicipi anggur Constantia.

Knoerle mencatat bahwa Diponegoro memuji rasanya yang enak dan mengatakan bahwa ia sudah lima tahun tidak minum anggur tersebut.

Anggur Constantia adalah anggur yang sangat populer pada saat itu dan diproduksi di Tanjung Harapan, Afrika Selatan.

Anggur ini terkenal karena menjadi favorit beberapa tokoh besar seperti Frederick The Great dari Prussia dan Napoleon Bonaparte.

Namun, polemik seputar apakah Diponegoro benar-benar minum anggur ini masih menjadi perdebatan hingga saat ini.

Peter Carey, seorang peneliti yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memahami Diponegoro, mengklaim bahwa Diponegoro hanya minum anggur tersebut dengan sangat jarang, dan hal ini merupakan bagian dari budaya pada masa itu di kalangan bangsawan.

Perdebatan seputar sejarah ini mencuat di media sosial, dengan beberapa pihak meragukan keakuratan catatan Knoerle. Namun, penting untuk memahami bahwa sejarah sering kali kompleks dan dipengaruhi oleh sudut pandang dan konteks zaman itu.

Memahami bahwa tokoh sejarah seperti Diponegoro adalah manusia biasa dengan kelebihan dan kekurangan adalah langkah penting dalam menghargai warisan sejarah kita dengan tepat. (JF04)

Latest News

Kolonel Laut (KH) Ignatius Maria Pundjung Triyogatama, S.Sos., M.Sc. Resmi Jabat Kadispen Kodaeral IV

Tanjungpinang (OnDTrack) : Kolonel Laut (KH) Ignatius Maria Pundjung Triyogatama, S.Sos., M.Sc. resmi menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Komando...

More Articles Like This