Belantara Foundation dan Universitas Pakuan Mantapkan Arah Masa Depan Karbon Biru melalui Seminar Internasional Ekosistem Mangrove

Must Read

Bogor (OnDTrack) :

Di tengah urgensi perubahan iklim global, Belantara Foundation bersama Program Studi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana dan Prodi Biologi FMIPA Universitas Pakuan mempersembahkan Belantara Learning Series Episode 14 bertajuk “Mangrove Ecosystems and the Future of Blue Carbon”.

Kegiatan monumental ini dilaksanakan secara hibrid dari Auditorium Lantai 3 Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan dan melalui aplikasi Zoom, menjangkau 908 peserta yang terdiri dari 527 peserta daring dan 381 peserta luring. Kehadiran peserta tak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari Pakistan, India, Bangladesh, Thailand, hingga Timor Leste, menjadikan forum ini ruang diskusi ilmiah yang berwawasan global.

Kegiatan ini semakin istimewa berkat kolaborasi enam universitas yang menggelar agenda “Nonton dan Belajar Bareng BLS Eps.14”, yakni Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Andalas, Universitas Sumatera Utara, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Nusa Bangsa.

Antusiasme akademisi, peneliti, dan mahasiswa mencerminkan kesadaran kolektif bahwa ekosistem mangrove bukan sekadar bentang alam pesisir, tetapi benteng kehidupan yang memegang kunci masa depan.

Kebijakan Nasional sebagai Penggerak Utama

Dalam keynote speech, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH RI Dr. Hanif Faisol Nurofig, S.Hut., MP yang diwakili Ibu Puji Iswari, S.Hut., M.Si. menegaskan bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove telah menghadirkan kepastian hukum bagi semua pemangku kepentingan.

Pengelolaan berdasarkan Kesatuan Lanskap Mangrove kini menjadi prinsip mutlak yang memperhitungkan keterhubungan darat–laut, biofisik, serta faktor sosial-ekonomi.

Implementasi kebijakan ini membutuhkan langkah konkret, kolaborasi lintas sektoral, serta inovasi berkelanjutan. Melalui PP 27/2025 disertai 13 regulasi turunan, pemerintah berharap arah konservasi mangrove berjalan efektif sehingga menekan kerusakan ekologis dan menghadirkan warisan lingkungan yang bernilai bagi generasi mendatang.

Baca Juga :  Adidas vs Puma, Konflik Dua Saudara

Mangrove sebagai Pilar Karbon Biru untuk Ketahanan Iklimy

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, menyoroti ekosistem mangrove sebagai ekosistem pesisir paling bernilai dan produktif di bumi. Mangrove bukan hanya penyangga kehidupan masyarakat pesisir, tetapi juga penyerap dan penyimpan karbon paling efisien, mengungguli sebagian besar hutan terestrial.

Ketika mangrove rusak, karbon dalam jumlah besar terlepas ke atmosfer — dan di sinilah pentingnya konservasi sebagai inti mitigasi krisis iklim.

Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi poros karbon biru dunia. Dengan investasi konservasi, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan kebijakan nasional yang terintegrasi, Indonesia dapat menjadi contoh global tentang bagaimana solusi berbasis alam menciptakan masa depan yang tangguh dan berkelanjutan.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Dr. Virni Budi Arifanti, menegaskan bahwa pengelolaan mangrove memerlukan scientific based evidence serta pelibatan masyarakat lokal. Ekosistem mangrove bukan hanya aset ekologis, tetapi juga jama lingkungan, sosial, dan ekonomi yang harus dijaga keberlanjutannya.

Sinergi Akademisi untuk Generasi Masa Depan

Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. rerpol. Ir. Didik Notosudjono, M.Sc., IPU, Asean Eng., menekankan peran akademisi sebagai katalisator perlindungan ekosistem mangrove. Dengan mengintegrasikan sains, masyarakat, dan kebijakan, konservasi akan melahirkan manfaat besar untuk ketahanan ekologi sekaligus kesejahteraan manusia.

Regional Coordinator Coastal and Marine Asia IUCN, Maeve Nightingale, M.Sc., mengungkapkan bahwa Asia adalah rumah terbesar mangrove dunia dengan lebih dari 4.094 hutan mangrove. Indonesia menjadi pusat perhatian global karena menyumbang seperempat total hutan bakau di planet ini dan menjadi hotspot keanekaragaman hayati dengan lebih dari 50 dari 73 spesies mangrove dunia.

Seminar internasional ini semakin kaya melalui paparan para narasumber internasional seperti Prof. M. Monirul H. Khan, Ph.D. (Bangladesh); Prof. Dr. Irfan Aziz (Pakistan); dan Kanchan Pawar, IFS (India).

Baca Juga :  Sinergi MIND ID dan Kampus: Hilirisasi Berbasis Riset untuk Kesejahteraan Rakyat

Sesi diskusi dipandu oleh Prof. Dr. Sata Yoshida Srie Rahayu dari Prodi Biologi FMIPA Universitas Pakuan, memperkuat pertukaran gagasan dan praktik terbaik pengelolaan mangrove dari berbagai negara.

Seminar internasional ini bukan sekadar forum ilmiah — melainkan panggilan kesadaran bahwa amanah menjaga mangrove adalah amanah menjaga masa depan bumi.

Kolaborasi ilmu pengetahuan, kebijakan, dan masyarakat bukan pilihan, tetapi keniscayaan. Konservasi mangrove adalah bahasa cinta kita pada generasi mendatang. Dan hari ini, Indonesia kembali menegaskan dirinya sebagai pusat gerakan global menuju masa depan karbon biru yang tangguh dan berkelanjutan.

Ketika kita merawat mangrove, sesungguhnya kita sedang merawat kehidupan — bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk dunia yang ingin kita wariskan esok hari.

)**Sanatawnee / Foto Syahik Nurbani

Latest News

Kolonel Laut (KH) Ignatius Maria Pundjung Triyogatama, S.Sos., M.Sc. Resmi Jabat Kadispen Kodaeral IV

Tanjungpinang (OnDTrack) : Kolonel Laut (KH) Ignatius Maria Pundjung Triyogatama, S.Sos., M.Sc. resmi menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Komando...

More Articles Like This