Wonogiri, Jawa Tengah (OnDTrack) :
Di tengah sunyinya lereng tenggara Gunung Lawu, seorang kakek renta menanam harapan satu per satu lewat ribuan pohon yang ia tanam sendiri. Namanya Mbah Sadiman. Warga Dusun Dali, Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri ini bukan pejabat, bukan orang kaya, apalagi tokoh besar. Tapi jejak perjuangannya untuk menghijaukan bumi jauh lebih dalam daripada yang dibayangkan.
Sejak 1998, Mbah Sadiman bersikukuh menanam pohon di bukit gundul yang dulu rusak parah akibat kebakaran dan penebangan liar. Ia mengorbankan uang dari hasil berjualan bibit cengkeh, menyabit rumput, dan menggarap lahan Perhutani demi membeli bibit pohon. Tak jarang ia harus berselisih dengan sang istri karena dapur tak berasap. Tapi Mbah Sadiman tak goyah.
Ia tetap menanam, satu demi satu. Bukan demi ketenaran, apalagi kekayaan. “Saya hanya ingin hidup saya berkah,” ucapnya suatu hari saat diwawancara Kick Andy.

Di awal perjuangannya, banyak yang mencibir. Ada yang bilang dia edan, kurang kerjaan, bahkan gila. Bibit-bibit yang ia tanam pun tak luput dari ulah tangan-tangan iseng yang mencabutnya hingga ke akar. Tapi Mbah Sadiman tetap melangkah. Mentalnya baja, semangatnya tak lapuk oleh cercaan.
Ia memilih menanam pohon beringin — pohon dengan akar kuat dan kemampuan menyerap air luar biasa. Perlahan, bukit yang dulu gersang itu berubah hijau. Sumber mata air kembali muncul. Airnya jernih, segar, bahkan bisa langsung diminum. Burung-burung kembali berkicau, satwa liar pun kembali.
Masyarakat yang dulu mengejek, kini mulai sadar. Mereka menikmati hasil kerja keras Mbah Sadiman: debit air yang stabil, tanah yang tidak lagi mudah longsor, dan bukit yang kini teduh.
Mbah Sadiman kemudian membuat lebih dari seribu anak tangga tanah menuju puncak bukit. Ia buat sendiri, dengan tangannya yang mulai keriput tapi tetap kuat. Tangga itu kini jadi jalur wisata alam, tempat anak-anak bisa berkemah, belajar mencintai bumi, dan menyaksikan bunga-bunga tumbuh indah.

Kini, masyarakat menyebut kawasan itu sebagai Bukit Sadiman — sebuah penghargaan hidup untuk pria sederhana yang telah menanam lebih dari 100 hektar hutan.
Jerih payahnya tak luput dari penghargaan. Ia menerima Kalpataru, Kick Andy Heroes Award, dan bahkan sempat diundang ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah. Tapi saat ditanya apa cita-citanya, jawabannya begitu sederhana, “Saya ingin sabar dan ikhlas.”
Mbah Sadiman mungkin tak fasih berpidato atau menyampaikan dalil, tapi ia menjalankan sabda Rasulullah SAW dengan teguh:
“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad)
Mbah Sadiman menanam, bukan hanya pohon, tapi juga keteladanan. Di saat dunia sibuk memperdebatkan solusi krisis iklim, ia diam-diam sudah puluhan tahun menjadi jawabannya.
Panjang umur dan sehat selalu, Mbah. Terima kasih telah menunjukkan bahwa satu orang pun bisa menyelamatkan bumi.
)**Sanatawnee

