Depok (OnDTrack) :
Pengukuhan Prof. Mahdi sebagai guru besar bukan hanya bentuk penghargaan atas kontribusinya dalam dunia akademik, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mendorong modernisasi industri herbal nasional. Dengan dukungan riset, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi pemain utama dalam industri farmasi berbasis tanaman obat.
Universitas Indonesia (UI) kembali mencatatkan prestasi akademik dengan mengukuhkan Prof. Dr. apt. Mahdi Jufri, M.Si. sebagai Guru Besar Tetap di Bidang Teknologi Sediaan Herbal, Fakultas Farmasi UI. Prosesi pengukuhan berlangsung (16/4) di Balai Sidang Kampus UI, Depok, menandai pencapaian luar biasa dalam pengembangan riset berbasis herbal dan teknologi nano di Indonesia.
Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Mahdi memaparkan pentingnya pengembangan nanoteknologi dalam sistem penghantaran obat atau Novel Drug Delivery System (NDDS). Sistem ini tidak hanya mampu meningkatkan efektivitas sediaan herbal, tetapi juga memberikan solusi terhadap berbagai kendala seperti bioavailabilitas rendah, kestabilan senyawa, serta potensi degradasi selama proses metabolisme.
Teknologi Nano untuk Produk Herbal
Pemanfaatan NDDS membawa banyak keuntungan. Misalnya, ia mampu meningkatkan kelarutan, memperpanjang durasi kerja senyawa aktif, serta melindungi zat aktif dari kondisi ekstrem dalam saluran pencernaan. Dengan formulasi berbasis liposom, nanoemulsi, dan nanovesikel, produk herbal dapat dikembangkan menjadi sediaan farmasi dan kosmetik berkualitas tinggi.
Tidak hanya itu, pendekatan ini juga meminimalkan toksisitas dan memperbaiki distribusi senyawa dalam tubuh, menjadikannya sebagai alternatif formulasi yang sangat potensial di tengah tingginya permintaan produk alami.
Peluang Industri Herbal Nasional
Prof. Mahdi juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi industri herbal Indonesia. Walau memiliki 19.871 jenis tanaman obat, Indonesia hanya menguasai kurang dari 1% pangsa pasar herbal global. Hal ini terjadi akibat keterbatasan riset, kurangnya fasilitas uji klinis, serta minimnya industrialisasi bahan baku lokal.
Untuk itu, Prof. Mahdi mengusulkan kolaborasi lintas sektor—antara perguruan tinggi, kementerian teknis, pemerintah daerah, dan pelaku industri—guna mempercepat proses pengembangan, uji klinis, hingga komersialisasi produk herbal berbasis teknologi tinggi.
Inovasi yang Siap Dikomersialkan
Dalam orasinya, Prof. Mahdi memaparkan sejumlah hasil penelitian inovatif yang telah dihilirisasi. Salah satunya adalah produk kosmetik berbasis ekstrak belimbing dewi, dikenal dengan merek Belimbing Island, yang kini telah tersedia di pasaran.
Selain itu, ia juga mengembangkan Nanoemulsi kurkumin untuk sediaan injeksi anti-inflamasi ; Gel liposom ekstrak kulit manggis sebagai produk anti-aging ; dan Nanoemulsi minyak sawit kaya antioksidan untuk suplemen balita.
Inovasi-inovasi ini menunjukkan bahwa penggabungan antara riset mendalam dan teknologi modern mampu menghasilkan produk yang kompetitif dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Menuju Kemandirian Farmasi Nasional
Pengembangan obat herbal berbasis teknologi nano berpotensi menjadi pilar penting dalam kemandirian industri farmasi Indonesia. Dengan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor—yang saat ini mencapai 90%—Indonesia berpeluang menjadi eksportir utama produk fitofarmaka dan kosmetik herbal di dunia.
Langkah ini sekaligus menjadi strategi nasional dalam memperkuat ketahanan kesehatan dan ekonomi, terutama di tengah dinamika global yang terus berubah.
)**Nawasanga

