PADANG ! OnDtrack.com –
Senator Republik Indonesia asal Sumatera Barat, Irman Gusman, menekankan pentingnya transformasi sektor pariwisata agar berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat lokal. Tolok ukur keberhasilan pariwisata tidak sekadar dihitung dari lonjakan angka kunjungan wisatawan, melainkan dari peningkatan pendapatan warga, penguatan keterampilan lokal, kelestarian lingkungan, serta kelestarian adat dan budaya.
Pesan strategis tersebut disampaikan Irman saat memberikan keynote speech dalam Konferensi Internasional International Conference on Culinary, Fashion, Beauty, and Tourism (ICCFBT) serta International Hospitality and Tourism Conference (IHTC) 2026 di Convention Hall Universitas Negeri Padang (UNP), Jumat (9/10/2026). Forum ilmiah yang diselenggarakan UNP bekerja sama dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia ini menghadirkan akademisi, peneliti, dan pelaku industri mancanegara.

Dalam paparannya, Ketua DPD RI ke-2 tersebut membeberkan dinamika ekonomi pariwisata nasional maupun daerah. Secara nasional, kontribusi sektor pariwisata pada 2025 mencapai 4,78 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp1.139 triliun. Di Sumatera Barat, pergerakan wisatawan nusantara periode Januari–Agustus 2026 tumbuh 3,7 persen mencapai 16,2 juta perjalanan. Namun, kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Minangkabau justru terkoreksi hampir 9 persen, yang menandakan perlunya penyesuaian strategi pasar secara presisi.
Irman yang juga menjabat Ketua Dewan Pakar Bidang Ekonomi dan UMKM PP Muhammadiyah menilai pertumbuhan pariwisata harus diterjemahkan ke dalam hubungan usaha yang konkret dengan ekosistem sekitar destinasi.
“Hotel bisa penuh, tetapi petani, perajin, dan usaha kecil di sekitarnya masih kesulitan menjangkau pasar. Karena itu, kuliner, fesyen, dan kecantikan harus dipadukan menjadi mata rantai yang saling mendukung,” ujar Anggota Komite I DPD RI asal Padang Panjang tersebut.
Pengintegrasian ketiga sektor ini dapat diwujudkan melalui paket wisata edukatif dan kultural. Wisatawan diajak menikmati kuliner khas Minangkabau, mengunjungi sentra tenun dan sulaman, mengikuti lokakarya interaktif, hingga mengenakan busana serta tata rias tradisional sesuai ketentuan adat setempat. Pola ini terbukti melipatgandakan dampak ekonomi karena memperpanjang durasi tinggal (length of stay) sekaligus memperluas jangkauan belanja wisatawan ke berbagai lapisan masyarakat.
Guna memperkuat kemitraan strategis tersebut, Irman mengusulkan formula Local Value Creation Compact (Kesepakatan Penciptaan Nilai Ekonomi Lokal) yang melibatkan investor, pemerintah, dan masyarakat. Kesepakatan ini mencakup target komitmen pembelian produk lokal, penyerapan tenaga kerja daerah, pelatihan mutu, hingga perlindungan ekosistem lingkungan.
“Contohnya sederhana: hotel mengikat kontrak pasokan dengan petani setempat. Perguruan tinggi membantu petani memenuhi standar mutu, dan pihak hotel berkomitmen membayar tepat waktu,” jelas Ketua Dewan Pengawas DPP Induk Keluarga Minangkabau (IKM) ini.
Sebagai langkah konkret, Irman menantang konsorsium penyelenggara untuk merealisasikan satu program percontohan bersama dalam waktu 100 hari pascakonferensi. UNP, UiTM, pemerintah daerah, dan pelaku usaha diharapkan berkolaborasi mendampingi satu destinasi terpilih, dengan indikator keberhasilan yang diukur secara terukur melalui pendapatan warga, kepuasan masyarakat, dan kondisi lingkungan.
Pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif hanya akan terwujud apabila alam dijaga, kearifan lokal dihormati, serta generasi muda diberikan panggung utama sebagai penggerak industri kreatif masa depan.
)***Tjoekjegegtantri / Foto Ist.

