Jakarta (OnDTrack) :
Meski jadi produsen telur terbesar ketiga dunia, Indonesia masih kekurangan asupan protein. Jadi, siapa sangka, di negeri yang kaya akan telur dan daging ayam, masih banyak anak-anak tumbuh tanpa cukup protein dalam tubuhnya.
Sebuah ironi yang menggugah nurani dan data terbaru menyebutkan, hampir setengah penduduk Indonesia masih kekurangan asupan protein harian.
Tahukah Anda? Protein dari telur diserap tubuh manusia hampir 100 persen (99,9%). Tapi masih banyak anak Indonesia yang tidak bisa makan telur setiap hari.
Padahal, dengan satu butir telur saja, kebutuhan gizi anak bisa terpenuhi secara signifikan.
Prof. Ali Agus hadir dengan solusi: inovasi pakan, koperasi, hingga roadmap swasembada protein hewani nasional.
“Miris, ya? Produksi tinggi, tapi asupan gizi masih rendah,” kata Prof. Dr. Ir. H. Ali Agus, IPU, ahli peternakan dan arsitek roadmap swasembada protein hewani Indonesia 2025–2035.
Ia berbicara penuh keprihatinan, tapi juga membawa harapan besar lewat inovasi nyata.
Kondisi Ironis di Negeri Kaya Telur
Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024, konsumsi protein orang Indonesia baru mencapai 62 gram per kapita per hari. Angka ini jauh di bawah Malaysia (159 gram), Thailand (141 gram), bahkan Filipina (93 gram).
Sementara itu program andalan Presiden Prabowo, Makan Bergizi Gratis (MBG), pun dihadapkan pada kenyataan pelik: ketersediaan daging, telur, dan susu belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.
“Kalau kita mau bicara makan bergizi, ya bicara protein hewani. Itu kuncinya,” tegas Prof. Ali.
Jerami Jadi Solusi Nasional
Perlu diketahui, tiga dekade lalu, Prof. Ali memulai perjalanannya dari sesuatu yang dianggap limbah: yaitu Jerami Padi. Ia mengubahnya menjadi pakan fermentasi bernutrisi tinggi.
Dari situlah lahir Fermented Complete Feed alias “burger pakan”, sebuah solusi revolusioner bagi peternak kecil hingga industri besar.
Burger pakan ini bukan hanya efisien, tapi menyelamatkan ternak saat musim kemarau atau ketika rumput sulit ditemukan.
Bahkan teknologi ini telah diterapkan di berbagai daerah dan terbukti menurunkan biaya produksi hingga 70 persen, karena pakan menyumbang biaya terbesar dalam beternak.
Inovasi Tak Pernah Usai
Sementara itu, inovasi Prof. Ali tak berhenti hanya di pakan. Ia pun menciptakan “Sapi Gama”, sapi Gagah dan Macho hasil persilangan Brahman dan Belgium Blue, menghasilkan daging berkualitas tinggi dengan efisiensi tinggi.
Disamping ia juga mengembangkan Imunobooster, konsentrat pakan penambah daya tahan tubuh ternak saat wabah PMK melanda.
“Kami tidak hanya meneliti. Kami ingin solusi nyata,” katanya penuh semangat.
Dari Akademik ke Kebijakan: Membuka Arah Baru
Kini, Prof. Ali menjembatani dunia akademik dan birokrasi sebagai Tenaga Ahli Menteri Pertanian dan Komisaris Utama BUMN Pangan ID FOOD.
Selain aktif juga menyusun roadmap pembangunan peternakan Indonesia, yang jadi fondasi kuat program MBG dan swasembada protein nasional.
“Kami ingin dari petani kecil sampai industri besar bisa terlibat. Lewat koperasi, sistem yang inklusif bisa tercipta,” ujarnya.
Dari Bonus Demografi Menuju Generasi Emas
Lantas, apa tantangan terbesar baginya? Stunting. Ingat sebanyak 30 juta anak Indonesia terancam tumbuh kerdil, kurang cerdas, dan mudah sakit karena kurang gizi.
“Kalau ini tidak ditangani serius, kita akan menghadapi katastrof demografi, bukan bonus,” tegas Prof. Ali.
Kuncinya kembali pada protein hewani. Telur, susu, dan daging bukan sekadar makanan. Ia adalah pondasi SDM unggul untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Dan akhirul Kalam, Prof. Ali menyampaikan filosofi sederhana: “Koperasi itu semangatnya kerja sama. Kerja sama itu gotong royong. Gotong berarti berbagi beban, royong berarti berbagi peran.”
Dari jerami hingga kebijakan nasional, dari laboratorium hingga panggung politik pangan, Prof. Ali membuktikan bahwa riset bisa mengubah nasib bangsa.
Mimpi Indonesia menjadi negara swasembada protein hewani bukan sekadar retorika. Itu bisa diwujudkan jika pemerintah, peneliti, peternak, dan masyarakat bersatu.
Seperti kata Prof. Ali, “Yang penting itu manusianya. A Man behind the gun.”
Dengan semangat gotong royong dan inovasi berkelanjutan, Indonesia punya semua modal untuk keluar dari krisis gizi dan menjadi eksportir protein hewani dunia.
)**Nawasanga

