Banjir besar yang melanda Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, bukan sekadar bencana alam; ia meninggalkan jejak luka yang jauh lebih dalam dari apa yang terlihat di layar gawai. Di balik derasnya arus, ada wajah-wajah yang berjuang mempertahankan hidup, dan ada kisah-kisah yang menyentuh nurani siapa pun yang melihatnya. Kepedihan itu turut disaksikan langsung oleh Putri Ikang Fawzi, almarhumah Marissa Haque, serta Chiki Fawzi—Super Volunteer Dompet Dhuafa—yang sejak hari pertama turun mendampingi para penyintas di Langkat.
“Sudah hari ketujuh pascabencana, tetapi air masih cukup tinggi. Saya bingung berkata-kata, karena sejak tadi ibu-ibu datang bercerita bagaimana mereka terpaksa menjadi single parent, rumahnya tenggelam, bahkan becaknya hanyut,” tutur Chiki Fawzi, menggambarkan getirnya situasi.
Di Desa Air Hitam, Selasa (2/12/2025), Chiki dan tim Relawan Dompet Dhuafa mengajak sekitar 40 anak mengikuti sesi Psychological First Aid (PFA)—upaya untuk meredakan stres dan kejenuhan akibat trauma yang masih membekas. Bersama tim, ia juga membagikan makanan untuk 500 penyintas yang masih bertahan di pos pengungsian.
Dengan suara lirih namun tegas, ia menyampaikan harapan, “Untuk ibu-ibu, bapak-bapak, dan adik-adik semua, semoga Allah terus memberikan kekuatan. Tetap bertahan. Semoga apa yang kita lakukan bisa menggaungkan kepedulian agar bantuan semakin luas menjangkau mereka yang belum tersentuh.”
Ketika Air Mengambil Segalanya
Salah satu penyintas, Lendi Elfrida, mengingat jelas momen ketika banjir merangsek tanpa ampun ke pemukiman mereka. Ia berlari menyelamatkan diri tanpa sempat membawa apa pun selain pakaian di tubuhnya. Rumah, barang-barang, mimpi yang ditata perlahan—semuanya hilang diterjang air.
“Mulai Rabu malam, hujan sudah deras sekali. Tiga hari berturut-turut hujan terus. Di sini jarang sekali banjir sebesar itu, jadi kami benar-benar tidak tahu harus lari ke mana,” ungkapnya saat ditemui Selasa (3/12/2025).
Tak ada pakaian tersisa. Tak ada barang yang bisa diselamatkan. “Hanya yang melekat di badan. Semua habis,” tuturnya.
Kini Lendi mengungsi di pos pengungsian kawasan Air Hitam, Kecamatan Gebang. Selama masa darurat, ia bergantung pada layanan Dapur Umum Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, yang menyediakan makanan dan minuman gratis setiap hari.
“Terima kasih sekali kepada semua yang sudah membantu. Di sini kami bisa makan dan minum gratis,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Baginya, keberadaan Dapur Umum adalah nyawa kedua—penolong yang datang ketika kebutuhan dasar seperti makanan dan obat-obatan menjadi sesuatu yang paling mendesak.
“Semoga jangan ada lagi bencana seperti ini menimpa kita,” tambahnya, berharap alam memberi jeda untuk mereka membangun hidup yang porak-poranda.
Ketika Kepedulian Menjadi Cahaya di Tengah Bencana
Banjir ini bukan sekadar peristiwa alam; ia adalah ujian kemanusiaan. Namun di balik gelapnya ujian, selalu ada cahaya—dari para relawan, para donatur, dan mereka yang memilih hadir untuk menyembuhkan luka yang tak terlihat.
Langkat mungkin sedang dilanda pilu, tetapi kepedulian yang mengalir adalah bukti bahwa harapan tidak pernah benar-benar tenggelam. Dan dari sinilah, kekuatan untuk bangkit selalu bermula.
Duka membutuhkan tangan-tangan yang memilih untuk peduli—dan ketika kepedulian itu hadir, bencana paling kelam pun selalu menyisakan peluang untuk bangkit lebih kuat.
Tanjungpinang (OnDTrack) :
Kolonel Laut (KH) Ignatius Maria Pundjung Triyogatama, S.Sos., M.Sc. resmi menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Komando...