Jakarta, (Ondtrack) :
Jika politik adalah panggung besar, maka Sufmi Dasco Ahmad kini bukan lagi pemeran pendukung. Ia mulai menapak ke tengah cahaya sorot, menatap kursi tertinggi republik dengan langkah yang tak lagi ragu.
Kali ini, dukungan datang dari arah utara Jawa — Ikatan Keluarga Besar Pemuda Tegal Bersatu — sekelompok anak muda yang memilih tidak diam di pinggir sejarah. Di Jakarta, Senin (3/11), mereka mengumandangkan tekad: Sufmi Dasco Ahmad layak menjadi Presiden Republik Indonesia pada 2029.
“Beliau bukan hanya politisi, tapi intelektual dan negarawan. Kami siap mendukung Sufmi Dasco Ahmad memimpin negeri ini,” tegas Nizar Caeroni, perwakilan organisasi tersebut.
Dari Ruang Parlemen ke Denyut Bangsa
Nama Sufmi Dasco Ahmad bukan nama asing di koridor kekuasaan. Wakil Ketua DPR RI periode 2024–2029 itu dikenal tenang, berhitung, dan jarang bersuara tanpa arah. Di Senayan, ia sering menjadi sosok di balik layar strategi politik Partai Gerindra, tempat ia tumbuh bersama Prabowo Subianto.
Namun Dasco tak hanya hidup dari politik. Ia juga Rektor Universitas Kebangsaan Indonesia, menjembatani dunia gagasan dan eksekusi. Ia berbicara tentang hukum di pagi hari, mengajarkan kebangsaan di sore, dan menulis tentang nilai-nilai republik di malam hari.
Politisi yang juga akademisi — dua sisi mata uang yang langka di politik hari ini. “Dasco bukan hanya paham teori, tapi juga terbukti tangkas di lapangan. Visi kebangsaannya konkret, bukan retorika,” tambah Nizar, menguatkan alasan dukungan.
Bisik-Bisik tentang Partai Baru
Namun, di balik dukungan itu, politik seperti biasa menyimpan aroma lain. Tersiar kabar bahwa tengah dipersiapkan Partai Persatuan Indonesia (PPI) — wadah politik baru yang digadang akan menjadi kendaraan Dasco menuju Pilpres 2029.
Jika benar, langkah ini bisa menjadi manuver besar — dari parlemen menuju panggung rakyat, dari kursi legislatif menuju gelanggang eksekutif. Gerakan ini bukan sekadar wacana, tapi mungkin strategi pembuka untuk membangun poros politik baru di luar bayang-bayang partai lama.
Tegal dan Gelombang Awal Sebuah Perubahan
Di tengah hiruk-pikuk ambisi politik nasional, dukungan Pemuda Tegal mungkin tampak sederhana. Tapi di politik, suara kecil sering menjadi dentuman pertama perubahan besar.
Tegal bukan sekadar kota di pantai utara Jawa — ia adalah simbol kerasnya kehidupan rakyat, keteguhan orang biasa yang tahu membedakan kepemimpinan sejati dari sekadar janji. Dukungan mereka, bagi sebagian pengamat, adalah tanda bahwa Dasco mulai menembus sekat wilayah, mengalir sebagai figur lintas batas politik lama.
Sementara nama-nama besar masih menakar peluang, Dasco perlahan membangun jaringan akar rumput, dari kampus ke komunitas, dari ruang rapat ke jalan-jalan tempat rakyat menunggu arah baru.
Dan seperti gelombang yang lahir dari riak kecil, mungkin sejarah sedang menyiapkan arus baru dari Tegal — menuju istana yang dulu hanya dihuni oleh nama-nama besar.

