Sofifi (OnDTrack) :
Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, wujudkan pendidikan dan kesehatan gratis hanya dalam 100 hari masa jabatannya. Luarrr … biasa !
Maluku Utara kini melangkah lebih terang—berkat keberanian dan komitmen Sherly Laos untuk meletakkan rakyat sebagai prioritas utama.
Bukan hanya janji, tapi aksi. Dan itu dimulai hanya dalam 100 hari. Bayangkan anak-anak bisa sekolah tanpa memikirkan biaya komite, atau warga bisa langsung mendapat layanan kesehatan hanya dengan menunjukkan KTP.
Impian itu kini nyata di Maluku Utara. Gubernur Sherly Laos berhasil mencatatkan gebrakan luar biasa yang menyentuh langsung kehidupan rakyat: pendidikan dan kesehatan gratis.
Pendidikan Gratis Sudah Terwujud!
“Saya sudah bisa pendidikan dan kesehatan gratis by the end of 100 hari,” kata Sherly mantap.
Dan bukan sekadar janji. Per April lalu, seluruh biaya komite SMA negeri di Maluku Utara telah ditanggung pemerintah. Jumlahnya pun tak sedikit—antara Rp150 ribu hingga Rp250 ribu per siswa.
Kabar baiknya, program ini akan diperluas ke sekolah swasta dan madrasah mulai tahun ajaran baru Juli nanti.
Lebih dari itu, mahasiswa pra-sejahtera pun tak luput dari perhatian. Sherly meluncurkan Beasiswa Kuliah S1 untuk kampus-kampus berakreditasi minimal B di wilayah Maluku Utara.
Beasiswa ini berjalan sinergis dengan program DTSN Kemendikbudristek, memastikan mahasiswa kategori Dikti 1–3 bisa kuliah gratis—asal data mereka sudah terverifikasi.
Layanan Kesehatan Tak Perlu Tunggu Sebulan
Sherly juga tak main-main dalam sektor kesehatan. Per 1 Juni, Provinsi Maluku Utara resmi meluncurkan Program UHC Prioritas berkat kerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Artinya, setiap pemegang KTP Maluku Utara yang belum aktif BPJS-nya akan langsung diaktifkan oleh pemerintah provinsi, tanpa menunggu satu bulan seperti prosedur biasanya.
“Kadang orang butuh layanan kesehatan dalam kondisi darurat. Kita tidak tahu kapan itu terjadi. Maka UHC prioritas ini harus dilakukan,” tegasnya.
Aktivasi dilakukan real-time di hari yang sama selama jam kerja. Ini bukan hanya memudahkan, tapi menyelamatkan nyawa.
Apa yang dilakukan Sherly Laos bukan sekadar pencapaian administratif. Ini adalah cermin kepemimpinan yang peka terhadap kebutuhan mendesak masyarakat.
Akses pendidikan dan kesehatan bukan lagi kemewahan, tapi hak yang mulai diwujudkan secara nyata. Sherly telah menunjukkan bahwa dengan niat kuat dan kerja terarah, perubahan nyata bisa hadir lebih cepat dari yang dibayangkan.
)**M.Dwiana, N

